Selamat Datang di Website Nagari Batuhampar Kecamatan Akabiluru

Halaman Berita Nagari

SEJARAH NAGARI BATUHAMPAR


24 September 2019 12:15:21 Administrator

Beruntunglah Anak Nagari Batuhampar dewasa ini, yang mewarisi kemulayaan masa lalu. Nenek moyang mereka telah mewariskan hal yang terbaik bagi anak cucu mereka sekarang, setidaknya dalam dua hal. Pertama, sebuah Nagari dengan bentang alam (topografis) yang kaya variasi. Hampir semua anugrah alam dapat dijumpai di sini. Ada dataran tinggi berbukit-bukit, ada pula dataran rendah yang luas dan subur tanahnya untuk dijadikan lahan sawah ladang bagi penduduknya. Ada lurah dan tebing, ada pula gurun dan anak-anak sungai yang mengalir jernih di lembah dekat Nagari hingga ke Batang Lamposi. Semuanya memberi berkah kehidupan bagi Anak Nagari dari masa ke masa. Lagi pula lokasinya relatif bebas dari ancaman bencana alam. Tentu tidak semua Nagari ditakdirkan memiliki anugrah alam  seperti di sini. Kedua, prestasi generasi terdahulu menimbulkan rasa bangga tersendiri bagi Anak Nagari Batuhampar. Bukankah Bung Hatta, Mohammad Hatta (1902-1980), salah seorang Proklamator RI dan Wakil Presiden RI yang pertama itu adalah anak cucu orang Batuhampar. Kakeknya, Syeikh Abdurrahman (1777-1899), adalah seorang ulama besar, penggerak Islamisasi di pedalaman Minangkabau, meneruskan gerakan Islamisasi di kawasan pantai  oleh Syekh Burhanuddin (wafat 1704 M)). Keturunan Syekh Abdurrahman mampu menuruskan tradisi pendidikan Islam secara berkesinambungan tanpa terputus sampai hari ini, suatu tradisi yang mungkin hanya terdapat di Batuhampar. Salah seorang anak Syekh Abdurrahman, yaitu Syeikh Arsyad (1843-1924) terkenal sebagai „qari“ terkenal karena menguasai „qiraat nan tujuh“, yang  mengharumkan nama Batuhampar sebagai pusat seni baca Al Quran di Minangkabau sejak pergantian abad ke-19/20.  Banyak ulama terkemuka yang pernah belajar di sana. Di antaranya, Inyiak Canduang atau Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly (1870-1971). Lembaga pendidikan formal „Madrasah Al Manaar“ warisan para Syeikh Batuhampar, juga pernah terkenal karena reputasi pendidikannya yang bermutu dan murid-muridnya berdatangan dari hampir seluruh daerah Sumatera. Agakanya terlalu sayang untuk melupakan nama alm. Prof. DR. Mansoer Malik, Dt. Sigoto, mantan Rektor IAIN Imam Bonjol Padang, tahun 1990-an.

Sebenarnya ada banyak prestasi para pendahulu, yang telah memberikan kemulyaan masa lalu bagi Anak Nagari Batuhampar masa kini. Membuka kembali lembaran sejarah  Nagari ini, generasi Anak Nagari Batuhampar yang hidup sekarang memiliki alasan untuk merasa bangga dengan sejarah Nagari ini. Mereka mestinya makin insyaf dan bersyukur betapa nenek moyang terdahulu telah berbuat banyak demi kemulayaan bagi anak cucu. Namun memilik kemulyaan masa lalu saja tidak cukup. Bahkan bisa menyesatkan. Mereka tak boleh kehilangan jejak sejarah dan sebaliknya harus membangun kesinambungan masa lalu dengan masa kini. Seperti dikatakan oleh syair, bahwa Seburuk-buruknya manusia adalah mereka yang pemalas.... Bila kau ungguli, mereka cepat-cepat menyebut kebesaran nenek moyang mereka.” Untuk zaman mereka sendiri,  mereka mestinya juga berkerja keras membangun kemulyaan baru.

Tentang asal usul nama Batuhampar, tidak ada petunjuk yang pasti untuk dijadikan pegangan. Namun seperti kebanyakan Nagari di Minangkabau, khazanah tradisi adat yang disampaikan secara lisan dan turun temurun sedikit banyak dapat membantu merekonstruksi sejarah awal Nagari ini.  Ada beberapa versi, dua di antaranya lebih dapat diterima. Versi pertama, mengatakan bahwa nama Batuhampar itu sendiri konon berasal dari kenyataan alam sekitarnya, seperti yang ditemukan pada kebanyakan Nagari Minangkabau umumnya. Dikatakan bahwa karena didasari lahan pemukiman Anak Nagari itu terhampar banyak batu-batu besar, maka Nagari ini diberi nama Batuhampar. Pada kenyataannya, memang demikian, sebab di mana pun orang mencoba menggali tanah sampai pada kedalaman tertentu, akan ditemukan batu besar yang sulit ditembus. Batu besar yang terhampar didasarnya sekaligus berfungsi sebagai pondasi Nagari. Agaknya karena alasan inilah mereka memberi nama nagari ini demikian.

Versi kedua mengatakan, bahwa kata ”Batuhampar” itu berasal dari batu hamparan tempat duduk nenek moyang ketika berunding untuk mendirikan Nagari. Batu hamparan tempat mereka mengadakan sidang para datuk-datuk di bawah pohon beringin yang rindang, terletak dekat bangunan SD 01 Batuhampar sekarang. Batu hamparan tempat berunding bagi nenek moyang itulah yang lekat menjadi nama Nagari ini. Batu hamparan dan pohon beringin itu kini sudah tidak ada lagi, tetapi letaknya, masih bisa diidentifikasi, kira-kira di tengah-tengah Nagari sekarang.  Masih berkaitan dengan batu-batu besar ini, sampai sekarang juga ada nama suatu tempat di Nagari ini yang disebut ”Batu Dinding”. 

Terlepas dari pertanyaan manakah yang betul di antara kedua versi di atas, yang jelas kebanyakan orang tua-tua Nagari ini tahu betul bahwa lokasi Nagari ini aslinya tidak di tempat yang sekarang.  Sebelumnya mereka bermukim di Koto, yang kini dikenal sebagai lokasi ladang penduduk Anak Nagari. Terkait dengan cerita ini, ada kepercayaan adat di Nagari, bahwa salah satu tanda untuk menunjukan apakah suatu kaum termasuk generasi pendahulu (’urang asa’) atau bukan alias pendatang yang lebih kemudian di Nagari ini, terlihat dari apakah kaum itu memiliki tanah kaum (pusako) di Koto itu atau tidak. Akan tetapi sebelum tinggal di Koto ini pun, nenek moyang sebetulnya sudah mengalami beberapa kali pindah.  Kalau dilacak batu tapak sejarah Nagari ini, maka di sini kita akan menemukan beberapa tahap perpindahan sesuai  dengan tuntutan adat mendirikan Nagari di Minangkabau. Di situ ada proses yang harus dilalui, mulai dari tahap yang sederhana ke yang lebih kompleks. Dalam ungkapan adat dikatakan,

Taratak mulai ka dibuek

Sasudah taratak menjadi dusun

Sudah dusun menjadi  Koto

Sudah Koto menjadi Nagari

Terjemahannya: 

Taratak mulai akan dibuat

Sesudah Taratak menjadi Dusun

Sudah Dusun menjadi Koto

Sudah Koto menjadi Nagari

Dengan demikian ada empat tahap berbeda dalam pembentukan Nagari. Masing-masing mengalami  metamorfose (perubahan bentuk) dari satu tahap ke tahap berikutnya. Nagari Batuhampar tampaknya mengikuti pola pembentukan nagari tersebut secara utuh.

Pertama, Taratak, berasal dari kata ”tatak”, artinya ”buat”. Jadi kata kerja ”menatak” artinya ”membuat” sesuatu yang baru, dari yang tidak ada menjadi ada. Dalam hal ini adalah membuat atau ”manaruko” pemukiman tempat tinggal yang mula-mula. Awalnya hanyalah berbentuk pemukiman yang terserak di beberapa tempat tertetu dan seringkali terpencil satu sama lain di antara sejumlah keluarga, di mana mereka membuka sawah ladang.  Generasi pertama penghuni Taratak agaknya berasal dari  pecahan dari kelompok nenek moyang Luak Limo puluah Koto, yang turun dari Tanah Datar. Dalam sejarah persebaran penduduk Luak Nan Bungsu ini dikatakan, bahwa nenek moyang pertama datang dari Luak Nan Tuo, Luak Tanah Datar. Jumlah mereka Lima Puluh orang. Dalam perjalanan mereka beristirahat semalam di Tangah Padang. Ketika bangun pagi mereka terkejut dan saling bertanya karena lima orang rekan mereka menghilang. Jumlah mereka berkurang. Belakangan diketahui lima orang yang hilang tersebut rupanya meneruskan perjalanan di malam hari dan akhirnya membangun pemukinan di daerah Kampar. Tengah Padang tempat mereka bersitirahat itu kemudian diberinama  Padang Siontah, sebab semua saling bertanya dan tidak ada yang tahu jawabannya , ”ontah”, dalam bahasa lokalnya. Begitu juga asal usul nama Luak Lima Puluh Kota juga dihubungkan dengan jumlah nenek moyang yang turun dari Tanah Datar itu. Jumlah yang tersisa sebanyak 45 orang kemudian meneruskan perjalanan mereka dengan menyebar ke beberapa tempat. Salah satu rombongan menetap di sekitar Padang Siontah. Mereka inilah yang menjadi nenek moyang pertama orang Batuhampar yang menyebarkan ke sejumlah taratak. Mereka inilah yang membangun Taratak, cikal-bakal Nagari Batuhampar yang pertama. Lokasinya mestinya dapat ditemukan di suatu tempat bernama ”taratak” atau sebuah lokasi yang erat kaitannya dengan nama taratak. Di sanalah generasi pertama nenek moyang orang Batuhampar mula-mula membangun tempat tinggal mereka yang baru. Sampai kini masih ada sebuah tempat bernama Lamparik Taratak (Dalam Parit Taratak). Lama kelamaan, setelah beberapa generasi penduduknya bertambah juga. Lalu diputuskan untuk berkumpul membangun pemukiman yang baru, tanpa perlu meninggalkan taratak yang lama.  Itulah dusun Kototingga.

Kedua, dusun sebagai bentuk pemukiman kedua di Nagari ini, tempatnya di Kototingga sekarang. Sebelumnya dusun itu hanya bernama Koto saja, tetapi setelah pindah ke koto yang baru, nenek moyang menyebutnya dengan Kototingga. Jadi Kototingga sekarang, pada dasarnya adalah dusun pertama yang lebih maju keadaan masyarakatanya daripada Taratak. Meskipun belum lengkap susunan masyarakat menurut aturan adat, nenek moyang di dusun Kototingga sudah mulai menata kehidupan bersama, yang terdiri sejumlah kepala-kepala keluarga, seringkali  yang bertalian darah satu sama lain. Di dusun itu mereka sudah mulai membuat aturan-aturan sosial kemasyarakat berdasarkan adat, tetapi belum lengkap betul struktur adatnya. Pada dusun itu orang belum mendirikan rumah gadang dan balai adat.  Segera Kototingga tumbuh menjadi dusun yang padat, dan pemukiman tempat tingal semakin sempit, maka beberapa keluarga mulai membuka lahan koto yang baru.

Ketiga, Koto secara harfiah berarti “benteng” pertahanan disertai dengan pengaturan-pengaturan kehidupan sosial kemasyarakat berdasarkan adat. Dalam ungkapan adat dikatakan, ”Balando babenteang basi, Minangkabau babenteang adat”. Artinya, Belanda membentengi dirinya dengan senjata, orang Minangkabau membentengi kampung mereka dengan adat. Sesungguhnya sewaktu di Koto itulah pemukiman dusun yang lebih sempurna didirikan, termasuk pengaturan adat, kepemilikan tanah kaum dan penambahan jumlah penduduk yang jauh lebih besar daripada koto yang lama, Kototingga. Dengan demikian, Koto mulanya adalah perluasan dari dusun Koto yang lama (Kototingga). Ketika koto yang lama (yakni Kototingga) makin berkembang penduduknya, maka didirikan pula koto-koto yang lain. Di daerah lain dikenal nama seperti  ikua koto (ekor koto), kapalo koto (kepala koto), koto tongah (koto yang di tengah) dan kotobaru.  Kecuali ”ekor koto”,  semua jenis koto ini masih dikenal di Batuhumpar sampai sekarang, seperti  kapalo koto, Kotobaru (kini menjadi salah satu Jorong di Nagari Batuhampar), Kototangah yang berkembang menjadi Nagari yang berdiri sendiri.  Sewaktu nenek moyang tinggal di Koto ini banyak terjadi peperangan antar Nagari. Dalam naskah-naskah lama sering disebut ”perang batu” antar Nagari. Salah satu perang besar terjadi di Koto adalah antara Batuhampar dan Piobang. Konon banyak korban berjatuhan, sehingga mayat-mayat ditimbun saja di sebuah parit, yakni Parik Anyia yang masih dikenal penduduk sampai sekarang. Itulah tempat kuburan massal korban perang antara Nagari ini dengan Piobang. Walaupun Batuhampar berhasil menghalau musuh sampai jauh ke perbatasan Nagari mereka, yakni dekat Bukit Apik, Koto sejak saat itu tidak lagi menjadi tempat hunian yang aman. Itulah sebabnya asal mula nenek moyang merencanakan pindah dan mendirikan Nagari yang sekarang, Batuhampar.

Keempat, Nagari adalah suatu kesatuan masyarakat adat yang tertinggi kedudukannya di antara bentuk-bentuk pemukiman yang terdahulu. Di masa lalu, khususnya sebelum kedatangan Belanda, Nagari-Nagari merupakan ”republik” yang kecil yang independen, dalam arti tidak ada kekuasaan yang lebih tinggi di atasnya, kecuali hubungan simbolik antara Kerajaan Pagaruyung di Luak Tanah Datar dengan Nagari-Nagari. Dengan berdirinya Nagari Batuhampar, maka boleh dikatakan susunan masyarakat menjadi ‘lengkap’. Paling tidak ada dua pengertian Nagari yang lengkap. Pertama, dalam arti fisik, termasuk proses pembentukan Nagari yang melewati empat fase pertumbuhan, sesuai dengan tuntunan adat mendirikan Nagari. Ini sudah jelas sebagaimana disinggung di atas. Gambaran Nagari yang lengkap dalam ungkapan adat dikatakan demikian :

Nagari bapaga jo undang

Nagari berpagar aturan adat

Kampuang bapaga jo pusako             

Kampung berpagar pusaka

Dibari basosok bajurami           

Ditandai dengan sawah-ladang

Balabuah, bagalanggang          

Jalan dan gelanggang     

batapian  tampek mandi           

sumber air tempat mandi

Bapandam bapakuburan          

Tanah pekeburuan

Bakorong bakampuang             

Korong kampung

Barumah batanggo                    

Rumah tangga

Basawah baladang                            

Sawah dan ladang

Babalai bamusajiek                           

Balai/pekan dan mesjid.

 

Itulah ciri fisik Nagari yang lengkap menurut adat. Di Batuhampar ciri-ciri ini masih dapat dijumpai, meskipun sebagian di antaranya telah hilang. Misalnya “gelanggang” tempat bermain kini tidak ada lagi karena sudah disulap menjadi bangunan Puskemas dan pemukiman baru penduduk.  Juga lokasi pandam pakuburan Anak-Nagari Batuhampar  juga tidak dikenal lagi. Selebihnya masih bisa diidentifikasi satu persatu.

Selanjutnya ciri kedua dari Nagari yang lengkap, seperti ditemukan di Batuhampar, tercermin pula dari susunan masyarakat adat yang terdapat di Nagari ini. Seperti halnya dengan Nagari-Nagari di Luak Limo Puluah Koto umumnya, Batuhampar termasuk kelompok Nagari Koto-Piliang dengan struktur sosialnya lebih bercorak aristokrat. Ini agak berbeda dengan Nagari-Nagari di Luak Agam yang lebih demokrat dan Tanah Datar, yang merupakan campuran antara keduanya. Dalam struktur Nagari yang bercorak Koto-Piliang, susunan masyarakatnya bertingkat-tingkat di bawah kepemimpinan para datuk-datuk (penghulu).  Pada puncak piramid sosial, terdapat seorang “pangulu pucuak” (Datuk Pucuk) dan di bawahnya ada Datuk Ompek (Datuk Kompek Suku), yang mewakili kelompok kaum/ penghulu di masing-masing kampung. Di bawahnya lagi ada “tuo kampuang” dan dan seterusnya tiap kaum ada “tungganai”-nya. Jumlah penghulu Nagari tidak tetap, tapi bisa berkembang. Sewaktu masih menetap di Koto jumlah penghulu hanya 18 orang, tetapi setelah pindah ke Batuhampar jumlahnya lengkap sebanyak 28 orang, ditambah dua dengan yang dikirim ke Kotobaru dan Durian Gadang.

Di sini cukuplah dikatakan bahwa tapak sejarah Batuhampar terletak di Taratak, Kototingga dan Koto. Bagaimana pun juga, barulah di Batuhampar kesatuan komunitas Nagari menjadi utuh atau lengkap, baik dilihat dari sudut kelengkapan ciri-ciri fisik maupun non-fisiknya. Ciri fisik itu tampak dari sarana fisik yang dimilikinya, sedangkan ciri non-fisik terlihat dari kelengkapan kelembagaan adatnya, seperti dalam ungkapan adat di atas. Jelas karena alasan inilah maka oleh ulama besar Datuk Palimo Kayo, sekali waktu pernah merujuk Batuhampar sebagai salah satu di antara sedikit nagari yang “lengkap”. Kelengkapan itu sebagian sudah dibawa dari Koto sebelum pindah ke Nagari yang sekarang. Sebagian lain dicukupkan setelah nenek moyang pindah ke Nagari.

 

  • Sejarah Nagari Berdasarkan Pemerintahan

Nagari Batuhampar adalah salah satu Nagari di Kecamatan Akabiluru Kabupaten Lima Puluh Kota Propinsi Sumatera Barat yang telah dikukuhkan keberadaannya melalui Keputusan Bupati Lima Puluh Kota Nomor: 955/BLK/2001 tanggal 15 November 2001.

Pada awal terbentuknya Nagari Batuhampar terdiri dari 3 (tiga) Jorong yaitu Jorong Batuhampar, Jorong Durian Gadang dan Jorong Koto Baru, akan tetapi pada Tahun 2009 Terjadi pemekaran Nagari dimana Jorong Durian Gadang berdiri sendiri.  Dari Tahun 2009 sampai dengan tahun 2014  Nagari  Batuhampar hanya terdiri dari 2 (dua) jorong yaitu Jorong Batuhampar dan Jorong Koto Baru. Sejak tahun 2014 sampai dengan sekarang Nagari Batuhampar terdiri 5 Jorong dimana Jorong Batuhampar yang luasnya  ± 810 Ha dipecah menjadi 4 Jorong yaitu Jorong Menara Agung, Jorong Beringin Indah, Jorong Simpang Ganti dan Jorong Koto Ramai.

Sejak peralihan dari desa ke nagari tahun 2001 Nagari Batuhampar sampai sekarang telah dipimpin oleh 5 orang yang terdiri 1 Orang Pjs. Wali Nagari dan 4 orang Wali Nagari Definitif sebagaimana tergambar pada table dibawah ini :

Tabel 2.1.

Nama-nama Wali Nagari Batuhampar

Sesudah berdirinya Nagari Batuhampar

NO

PERIODE

WALI NAGARI

KET.

1

 2001  S/D  2002

NIZAM RAMLI

 Pjs W. Nagari

2

 2002  s/d  2004

AHMAD YANI, S.Sos

Wali Nagari

3

 2004  S/D 2010

AFRIZAL GAZALI

Wali Nagari

4

20-11-2010 – 20-11-2016

ASRA  ARAFAT,  M.Si

Wali Nagari

5

21-11-2016 – 21-11-2022

ROMI SUHARDI, A.Md

Wali Nagari

 

Komentar artikel ini : SEJARAH NAGARI BATUHAMPAR

Tulis Komentar

Belum Ada Komentar.

Silakan tulis komentar dengan menekan tombol Komentar dan jangan lupa Gunakan bahasa yang santun. Terima Kasih.